Gadis diterpa dingin angin.
Terhampar hangat senja.
Disinari orange matahari.
Bingung dalam kebisuan.
Sejak tadi, sang gadis sadar.
Seorang pria manis, menatap ke arahnya cukup lama.
Dalam waktu ratusan detik.
Kemudian, menyapa lembut.
Namun sang gadis tersadar,
"Sudikah langit menyapa bumi?"
Kemudian langit mendengar,
langit menantang.
Cukup dalam puluhan menit,
merubah segalanya.
Sang gadis Jatuh Cinta.
Senyum manis.
Indah tutur kata.
Pemikiran yang indah.
Sungguh, yang sang gadis tau hanya satu.
Pada pandangan pertama ia Jatuh Cinta.
****
Tapi bumi tetaplah bumi, apa mampu berharap banyak pada cinta langit?
Waktu berjalan, bumi mulai lupa.
Bagaimana menawannya langit?
Bumi bertemu air, bertemu angin, bertemu api.
Tak satupun, mampu meruntuhkan lapisan terluar kulit bumi.
Sempat, terakhir kali bumi bertemu bintang.
Namun tetap.
Letaknya nan jauh disana.
Sama seperti langit,
sulit digapai. Terlalu indah. Terlalu sakral.
Hingga kembali lagi datangnya langit.
Menawarkan segalanya.
Fajar, Siang, Senja, Malam.
Semua yang langit punya, dia tawarkan pada bumi.
Mimpi mimpi, cita, cinta, hidup, masa depan.
Kali ini tidak hanya sisi terangnya.
Tapi langit memberanikan diri menawarkan sisi gelapnya.
Jika malam hari, bukankah langit gelap, hitam?
Dunia langit, yang bahkan tidak pernah bumi mimpikan dalam mimpi - mimpi buruknya.
Kini bumi rasakan.
Hambatan?
Tentu bukan untuk bumi.
Karena setiap inci hal yang langit ciptakan terlalu indah.
to be continue :)
Note : Sudahlah langit, berhenti bermain - main.
Langit (1)
Gadis diterpa dingin angin.
Terhampar hangat senja.
Disinari orange matahari.
Bingung dalam kebisuan.
Sejak tadi, sang gadis sadar.
Seorang pria manis, menatap ke arahnya cukup lama.
Dalam waktu ratusan detik.
Kemudian, menyapa lembut.
Namun sang gadis tersadar,
"Sudikah langit menyapa bumi?"
Kemudian langit mendengar,
langit menantang.
Cukup dalam puluhan menit,
merubah segalanya.
Sang gadis Jatuh Cinta.
Senyum manis.
Indah tutur kata.
Pemikiran yang indah.
Sungguh, yang sang gadis tau hanya satu.
Pada pandangan pertama ia Jatuh Cinta.
****
Tapi bumi tetaplah bumi, apa mampu berharap banyak pada cinta langit?
Waktu berjalan, bumi mulai lupa.
Bagaimana menawannya langit?
Bumi bertemu air, bertemu angin, bertemu api.
Tak satupun, mampu meruntuhkan lapisan terluar kulit bumi.
Sempat, terakhir kali bumi bertemu bintang.
Namun tetap.
Letaknya nan jauh disana.
Sama seperti langit,
sulit digapai. Terlalu indah. Terlalu sakral.
Hingga kembali lagi datangnya langit.
Menawarkan segalanya.
Fajar, Siang, Senja, Malam.
Semua yang langit punya, dia tawarkan pada bumi.
Mimpi mimpi, cita, cinta, hidup, masa depan.
Kali ini tidak hanya sisi terangnya.
Tapi langit memberanikan diri menawarkan sisi gelapnya.
Jika malam hari, bukankah langit gelap, hitam?
Dunia langit, yang bahkan tidak pernah bumi mimpikan dalam mimpi - mimpi buruknya.
Kini bumi rasakan.
Hambatan?
Tentu bukan untuk bumi.
Karena setiap inci hal yang langit ciptakan terlalu indah.
to be continue :)
Note : Sudahlah langit, berhenti bermain - main.
Terhampar hangat senja.
Disinari orange matahari.
Bingung dalam kebisuan.
Sejak tadi, sang gadis sadar.
Seorang pria manis, menatap ke arahnya cukup lama.
Dalam waktu ratusan detik.
Kemudian, menyapa lembut.
Namun sang gadis tersadar,
"Sudikah langit menyapa bumi?"
Kemudian langit mendengar,
langit menantang.
Cukup dalam puluhan menit,
merubah segalanya.
Sang gadis Jatuh Cinta.
Senyum manis.
Indah tutur kata.
Pemikiran yang indah.
Sungguh, yang sang gadis tau hanya satu.
Pada pandangan pertama ia Jatuh Cinta.
****
Tapi bumi tetaplah bumi, apa mampu berharap banyak pada cinta langit?
Waktu berjalan, bumi mulai lupa.
Bagaimana menawannya langit?
Bumi bertemu air, bertemu angin, bertemu api.
Tak satupun, mampu meruntuhkan lapisan terluar kulit bumi.
Sempat, terakhir kali bumi bertemu bintang.
Namun tetap.
Letaknya nan jauh disana.
Sama seperti langit,
sulit digapai. Terlalu indah. Terlalu sakral.
Hingga kembali lagi datangnya langit.
Menawarkan segalanya.
Fajar, Siang, Senja, Malam.
Semua yang langit punya, dia tawarkan pada bumi.
Mimpi mimpi, cita, cinta, hidup, masa depan.
Kali ini tidak hanya sisi terangnya.
Tapi langit memberanikan diri menawarkan sisi gelapnya.
Jika malam hari, bukankah langit gelap, hitam?
Dunia langit, yang bahkan tidak pernah bumi mimpikan dalam mimpi - mimpi buruknya.
Kini bumi rasakan.
Hambatan?
Tentu bukan untuk bumi.
Karena setiap inci hal yang langit ciptakan terlalu indah.
to be continue :)
Note : Sudahlah langit, berhenti bermain - main.